Karakteristik Masyarakat Multikultural

By | January 3, 2021
Karakteristik Masyarakat Multikultural

Karakteristik Masyarakat Multikultural

Karakteristik Masyarakat Multikultural

Karakteristik Masyarakat Multikultural – Masyarakat multikultural identik dengan keberagaman yang melekat. Bagaimanakah karakteristik masyarakat multikultural? Berikut penjelasannya.

Setelah mempelajari bahasan ini, kalian diharapkan mampu memahami mengenai karakteristik masyarakat multikultural.

Keberadaan masyarakat multikultural tidak dapat dipisahkan dari berkembangnya konsep ‘multikulturalisme’ yang mencakup sedikitnya tiga unsur, yaitu:

  • Terkait dengan kebudayaan,
  • Merujuk kepada pluralitas (keragaman) kebudayaan, dan
  • Cara tertentu untuk menanggapi pluralitas tersebut.

Sedangkan Lawrence A. Blum, seorang guru besar filsafat di University of Massachusetts di Amherst menawarkan definisi multikulturalisme sebagai berikut “Multikulturalisme meliputi sebuah pemahaman, penghargaan dan penilaian atas budaya seseorang, serta sebuah penghormatan dan keingintahuan tentang budaya etnis orang lain. Ia meliputi sebuah penilaian terhadap budaya-budaya orang lain, bukan dalam arti menyetujui seluruh aspek dari budaya-budaya tersebut, melainkan mencoba melihat bagaimana sebuah budaya yang asli dapat mengekspresikan nilai bagi anggota-anggotanya sendiri.”

Apakah yang sebenarnya dimaksud dengan masyarakat multikultural? Secara umum, masyarakat multikultural dapat dimaknai sebagai suatu tatanan masyarakat yang memiliki karateristik heterogen, dimana pola hubungan antar individu dalam masyarakat bersifat toleran dan bersedia menerima kenyataan untuk hidup berdampingan secara damai satu sama lain dengan segala perbedaan yang ada. Perbedaan tersebut, antara lain, mencakup:

  1. Secara horizontal, ditandai oleh kenyataan adanya kesatuan-kesatuan sosial berdasarkan perbedaan suku bangsa, agama, adat, serta perbedaan kedaerahan.
  2. Secara vertikal, ditandai oleh adanya perbedaan-perbedaan vertikal antara lapisan atas dan lapisan bawah yang cukup tajam.

Untuk mewujudkan dan mengembangkan masyarakat multikutural, menurut pandangan Cogan (1998), ada beberapa karakteristik yang harus dimiliki oleh warga masyarakat, di antaranya:

  1. The ability to look at and approach problems as a member of a global society* (kemampuan mengenal dan mendekati masalah sebagai warga masyarakat global).
  2. The ability to work with others in a cooperative way and to take responsibility for one’s roles/duties within society (kemampuan bekerjasama dengan orang lain dan memikul tanggung jawab atas peran atau kewajibannya dalam masyarakat).
  3. The ability to understand, accept, appreciate and tolerate cultural differences (kemampuan untuk memahami, menerima, dan menghormati perbedaan-perbedaan budaya).
  4. The capacity to think in a critical and systemic way (kemampuan berpikir kritis dan sistematis).
  5. The willingness to resolve conflict and in a non-violent manner (kemampuan menyelesaikan konflik dengan cara damai tanpa kekerasan).
  6. The willingness to change one’s lifestyle and consumption habits to protect the environment (kemampuan mengubah gaya hidup dan pola makanan pokok yang sudah biasa guna melindungi lingkungan).
  7. The ability to be sensitive towards and to defend human rights e.g, rights of women, ethnic minorities, etc. (memiliki kepekaan terhadap dan mempertahankan hak asasi manusia, seperti hak kaum wanita, minoritas etnis, dan sebagainya).
  8. The willingness and ability to participate in politics at local, national and international levels (kemauan dan kemampuan berpartisipasi dalam kehidupan politik pada tingkatan pemerintahan lokal, nasional, dan internasional).

Dalam konteks masyarakat Indonesia, keanekaragaman budaya yang ada haruslah dipandang sebagai sebuah kekayaan, bukan potensi masalah. Bahwa Indonesia tidak memiliki identitas budaya yang tunggal bukan berarti tak memiliki jati diri, namun dengan keanekaragaman budaya yang ada membuktikan bahwa masyarakat kita memiliki kualitas menghasilkan budaya yang luar biasa, jika mengacu pada pengertian bahwa kebudayaan adalah hasil cipta manusia.

Untuk mewujudkan multikulturalisme di Indonesia, sebaiknya terlebih dahulu dikembangkan persamaan persepsi di antara segenap masyarakat mengenai adanya keragamanan tersebut, dan kemudian dimunculkan semangat untuk membina kehidupan bersama secara harmonis. Pada dasarnya, multikulturalisme sendiri menghendaki adanya persatuan dari berbagai kelompok kebudayaan dengan hak dan status sosial politik yang sama dalam masyarakat modern.

Masyarakat multikultural berbeda dengan masyarakat majemuk. Pada masyarakat multikultural (multicultural society), individu maupun kelompok dari berbagai budaya dan suku bangsa hidup dalam kesatuan sosial tanpa kehilangan jati diri budaya dan suku bangsanya meskipun tetap ada jarak. Sementara itu, pada masyarakat majemuk (plural society) cenderung menekankan etnitas atau suku bangsa yang akhirnya berpotensi memunculkan etnosentrisme dan primordialisme. Dengan perkataan lain, dapat disimpulkan bahwa masyarakat multikultural merupakan masyarakat yang kelompok suku bangsa dan budayanya berada dalam kesetaraan derajat dan toleransi sejati. Sementara itu, dalam masyarakat majemuk masih terdapat hubungan yang tidak seimbang antar suku bangsa dan budaya, berbentuk dominasi atau hegemoni.

Adapun karakteristik dari suatu masyarakat multikultural dapat diuraikan sebagai berikut:

  • Dalam masyarakat multikultural, masing-masing budaya bersifat otonom.
  • Masyarakat multikultural dalam perkembangannya akan bersinggungan dengan konsep hidup bersama, untuk mencari kehidupan bersama.
  • Adanya semangat untuk hidup berdampingan secara damai (peaceful coexistence) dalam perbedaan kultur yang ada baik secara individual maupun secara kelompok dan masyarakat.
  • Dikembangkannya toleransi, saling memahami, dan menghargai perbedaan yang ada.
  • Terkait dengan upaya pencapaian civility (keadaban), yang amat esensial bagi terwujudnya demokrasi yang berkeadaban, dan keadaban yang demokratis.

Rangkuman

  • Keberadaan masyarakat multikultural tidak dapat dipisahkan dari berkembangnya konsep ‘multikulturalisme’.
  • Untuk mewujudkan multikulturalisme di Indonesia, sebaiknya terlebih dahulu dikembangkan persamaan persepsi di antara segenap masyarakat mengenai adanya keragamanan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *