Pengertian, Jenis-Jenis, Peranan dan Karakteristik Norma Sosial

By | January 5, 2021
Pengertian, Jenis-Jenis, Peranan dan Karakteristik Norma Sosial

Pengertian, Jenis-Jenis, Peranan dan Karakteristik Norma Sosial

Pengertian dan Karakteristik Norma Sosial

Pengertian, Jenis-Jenis, Peranan dan Karakteristik Norma Sosial – Nilai dan norma selalu berkaitan satu sama lain. Apakah yang dimaksud dengan norma sosial? Bagaimanakah karakteristik norma sosial? Berikut penjelasannya.

section-media

Setelah mempelajari bahasan ini, kalian diharapkan mampu memahami mengenai pengertian dan karakteristik nilai sosial.

Pengertian Norma Sosial

Norma dibentuk di atas nilai sosial dan diciptakan untuk menjaga dan mempertahankan nilai sosial. Norma merupakan bentuk konkret dari nilai-nilai yang ada di dalam masyarakat. Misalnya, nilai menghormati dan mematuhi orang tua diperjelas dan dikonkretkan dalam bentuk norma-norma bersikap dan berbicara kepada orang tua. Nilai-nilai sopan santun di sekolah dinyatakan menjadi tata tertib sekolah.

Secara umum, norma mengandung sanksi yang relatif tegas terhadap para pelanggarnya atau diistilahkan sebagai sanctioning norms. Norma sosial memang lebih banyak menekankan pada peraturan-peraturan yang selalu disertai oleh sanksi-sanksi yang merupakan faktor pendorong bagi individu ataupun kelompok masyarakat untuk mencapai ukuran nilai-nilai sosial tertentu yang dianggap terbaik untuk dilakukan. Menurut David Berry (1982), unsur pokok dari suatu norma adalah tekanan sosial terhadap anggota masyarakat untuk menjalankan norma-norma tersebut.

Alvin L. Bertrand (2005) mendefinisikan norma sebagai suatu standar-standar tingkah laku yang terdapat di dalam semua masyarakat. Ia menambahkan bahwa sebagai bagian dari kebudayaan non material, norma-norma dapat diidentikkan dengan arahan tegas menuju sikap dan tindakan yang ideal sesuai nilai sosial. Sedangkan Soerjono Soekanto dalam Kamus Sosiologi (1985) mengemukakan sejumlah pengertian norma sosial, yaitu:

  1. Aturan sosial,
  2. Patokan perilaku yang pantas, dan
  3. Tingkah laku rata-rata yang diabstraksikan.

Karakteristik Norma Sosial

Norma sosial memiliki beberapa karakteristik sebagai berikut:

  1. Norma selalu ada dalam kehidupan bermasyarakat. Kaidah atau norma yang ada di masyarakat merupakan perwujudan dari nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat tersebut.
  2. Norma awalnya terbentuk secara tidak disengaja. Lambat laun, akibat kebutuhan masyarakat yang semakin kompleks, norma pun dirumuskan secara sengaja. Berlakunya suatu norma sosial dapat berbentuk lisan maupun tertulis. Norma dapat berupa kebiasaan atau tradisi yang diturunkan secara lisan dari generasi ke generasi berikutnya. Dalam hal ini, seringkali ada ketidakjelasan dalam rumusan norma, karena hanya didasarkan pada ingatan orang-orang terdahulu, sehingga bisa jadi sudah mengalami banyak perubahan dari rumusan awalnya tanpa ada yang mengetahui secara pasti. Berbeda halnya dengan peraturan perundangan yang lazimnya dirumuskan secara formal dan tertulis. Rumusannya dapat dipertanggungjawabkan karena selalu disimpan dokumentasi tertulis, misalnya berupa lembaran negara.
  3. Dirumuskan berdasarkan hasil kesepakatan anggota-anggota masyarakat. Untuk menjamin kepatuhan anggota-anggota masyarakat terhadap norma tertentu, mereka perlu dilibatkan dalam perumusannya. Ini misalnya dapat dilihat dalam pembentukan norma hukum di Indonesia, sesuai ketentuan Undang-Undang Nomor 10 tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan, yang mensyaratkan perlunya diadakan Rapat Dengar Pendapat Umum untuk memperoleh masukan dan menyerap aspirasi dari komponen-komponen masyarakat terkait sebelum dilakukan pengesahan suatu Rancangan Undang-Undang (RUU) menjadi Undang-Undang (UU).
  4. Anggota masyarakat memperhatikan, mengikuti, dan mentaatinya. Suatu norma hanya akan dapat bertahan bila diperhatikan, diikuti, serta ditaati oleh anggota-anggota masyarakat. Bila suatu norma diabaikan serta terus-menerus dilanggar maka lambat laun akan kehilangan daya ikatnya dan lenyap dengan sendirinya.
  5. Pelanggaran terhadap norma akan menimbulkan sanksi-sanksi dari masyarakat. Sanksi adalah suatu rangsangan untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. O’Leary (2008) mengatakan bahwa sanksi merupakan upaya dengan suatu konsekuensi yang diduga dapat mengurangi atau menurunkan kemungkinan terjadinya pelanggaran terhadap norma-norma sosial.
  6. Norma dapat menyesuaikan dan disesuaikan dengan perubahan sosial, sehingga sering dikatakan bahwa norma bersifat dinamis. Arus perubahan kini memang menggemuruh teramat kuat hingga menumbangkan lembaga, menggeser nilai, dan menggoyahkan norma. Norma yang sekarang dianggap sesuai, mungkin di masa depan tidak lagi mampu menyesuaikan diri dengan perubahan dalam masyarakat, sehingga harus dirumuskan norma baru. Dalam konteks hukum di Indonesia, misalnya, pemerintah secara konsisten membenahi peraturan perundangan dengan melakukan perubahan terhadap pasal-pasal ataupun menyusun aturan baru yang lebih sesuai dengan realitas aktual masyarakat.

Jenis-Jenis Norma Sosial

Norma atau kaidah diperlukan oleh masyarakat dalam mengatur hubungan antar anggota masyarakat. Norma menjadi panduan atau tatanan serta pengendali tingkah laku warga. Apakah jenis-jenis norma sosial dalam masyarakat? Berikut penjelasannya.

section-media

Setelah mempelajari bahasan ini, kalian diharapkan mampu memahami mengenai jenis-jenis norma sosial.

Jenis-Jenis Norma Menurut Daya Ikatnya

Menurut daya ikatnya, norma sosial dapat dibedakan atas:

  1. Cara (usage)
    Cara (usage) merupakan norma yang menunjuk pada perbuatan terutama dalam hubungan pergaulan antar individu. Cara juga merupakan norma yang paling lemah daya ikatnya dibandingkan dengan norma lainnya. Hal ini dapat dirasakan dari sanksi pelanggarannya. Ketika seseorang melanggar cara, bentuk sanksi yang diterimanya adalah celaan.
  2. Kebiasaan (folkways)
    Kebiasaan (folkways) merupakan perbuatan yang diulang-ulang dalam bentuk sama di dalam pergaulan masyarakat. Pengulangan perbuatan tersebut menandakan bahwa kebiasaan ternyata disukai banyak orang. Kebiasaan juga memiliki kekuatan mengikat lebih besar daripada cara. Keberadaannya juga diakui dan diterima oleh masyarakat.
  3. Tata kelakuan (mores)
    Apabila suatu kebiasaan tidak semata-mata dianggap sebagai cara perilaku saja, tetapi telah diterima sebagai norma pengatur, maka kebiasaan tadi menjadi tata kelakuan. Tata kelakuan memaksakan suatu perbuatan. Selain itu, tata kelakuan juga mengandung larangan sehingga merupakan panduan agar anggota masyarakat menyesuaikan perbuatan-perbuatannya dengan tata kelakuan tersebut.
    Hal-hal yang penting diperhatikan dari tata kelakuan dikemukakan oleh Soerjono Soekanto (1997) sebagai berikut:
    • Tata kelakuan membatasi perilaku individu dalam masyarakat untuk berbuat sesuatu atau sebaliknya melarang berbuat sesuatu. Tata kelakuan muncul dari pengalaman-pengalaman masyarakat. Oleh karena itu, tata kelakuan suatu masyarakat bisa jadi berbeda dengan tata kelakuan masyarakat lain.
    • Tata kelakuan mengidentifikasi individu dengan kelompoknya. Melalui tata kelakuan, masyarakat secara tidak langsung memaksa individu untuk menyesuaikan perilakunya dengan tata kelakuan dalam mayarakat. Namun, masyarakat juga harus menerima seseorang menurut kesanggupannya untuk menyesuaikan diri dengan tata kelakuan yang ada.
    • Tata kelakuan menjaga solidaritas antar anggota masyarakat. Tata kelakuan yang berlaku dalam masyarakat tertentu, bisa jadi tidak berlaku bagi masyarakat lainnya. Dengan demikian, tata kelakuan menjaga keutuhan dan kerjasama antar anggota masyarakat tersebut.
  4. Adat-istiadat (custom)
    Tata kelakuan yang berintegrasi secara kuat dengan pola-pola perilaku masyarakat dapat meningkat menjadi adat istiadat (custom). Anggota masyarakat yang melanggar adat istiadat akan dikenai sanksi tegas.
  5. Hukum (laws)
    Norma hukum (laws) merupakan suatu tatanan yang lebih tepat dikatakan sebagai aturan yang tertulis, meskipun tidak selamanya seperti itu. Suatu rangkaian aturan yang ditujukan kepada anggota masyarakat, berisi ketentuan-ketentuan perintah dan larangan, hak dan kewajiban anggota masyarakat agar tercipta suatu ketertiban dan keadilan. Aturan-aturan hukum bisa berbentuk buku tertulis (kodifikasi), seperti berbagai macam kitab undang-undang (KUHP, KUHAP, UU, Keppres), maupun tidak tertulis. Di samping itu, bisa juga berupa macam-macam hukum adat yang ditaati dan dituruti oleh setiap anggota masyarakat karena mengandung sanksi atau hukuman tertentu.

Jenis-Jenis Norma Menurut Daya Ikatnya Sanksinya

Menurut sanksinya, norma sosial dapat dibedakan atas:

  1. Norma Agama
    Merupakan petunjuk hidup yang berasal dari Tuhan bagi penganutNya. Sanksi bagi pelanggarnya adalah ‘rasa berdosa’.
  2. Norma Kesopanan
    Adalah peraturan hidup yang timbul dari pergaulan segolongan manusia dan dianggap sebagai tuntunan pergaulan sehari-hari suatu masyarakat. Sanksi bagi pelanggarnya adalah ‘celaan dari masyarakat’.
  3. Norma Kesusilaan
    Ialah pedoman yang mengandung makna dan dianggap penting bagi kesejahteraan masyarakat. Sanksi bagi pelanggarnya adalah ‘cap negatif dari masyarakat, pengucilan, dan sebagainya. Contohnya, larangan kawin sumbang muhrim.
  4. Norma Hukum
    Berupa aturan tertulis maupun tidak tertulis yang berisi perintah atau larangan, bersifat memaksa dan memberikan sanksi yang tegas bagi pelanggarnya. Biasanya diperkuat oleh peraturan perundangan dan penegakan hukum yang dilakukan aparat. Sanksi bagi pelanggar dapat berupa kurungan (penjara) atau denda.
  5. Norma Mode
    Adalah cara dan gaya dalam melakukan dan membuat sesuatu yang sifatnya berubah-ubah serta diikuti banyak orang. Dalam bahasa sehari-hari, mode sering merujuk pada model pakaian. Mode mempengaruhi cara berinteraksi dan sedikit banyak juga berperan sebagai penanda kelas sosial. Sanksi bagi pelanggar dapat berupa cap ‘ketinggalan zaman’ atau tidak diterima dalam suatu lingkungan pergaulan tertentu.

Jenis-Jenis Norma Menurut Resmi atau Tidaknya

Menurut resmi/tidaknya, norma sosial dapat dibedakan atas:

  • Norma Resmi
    Ialah patokan yang dirumuskan dan diwajibkan dengan jelas serta tegas oleh pihak yang berwenang (pemerintah) kepada semua warga masyarakat.
  • Norma Tidak Resmi
    Tumbuh berdasarkan kebiasaan bertindak yang seragam sehingga diterima oleh sebagian terbesar anggota masyarakat. Biasanya dijumpai pada keluarga, perkumpulan informal, paguyuban, dan sebagainya.

Peranan Norma Sosial

Dalam kehidupan bermasyarakat selalu terdapat aturan, kaidah, atau norma. Kaidah atau norma yang ada di masyarakat ini merupakan perwujudan dari nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat tersebut. Bagaimanakah peranan norma sosial dalam masyarakat? Berikut penjelasannya.

section-media

Setelah mempelajari bahasan ini, kalian diharapkan mampu memahami mengenai peranan norma sosial dalam masyarakat.

Nilai dan norma selalu berkaitan satu sama lain. Norma dibentuk di atas nilai sosial dan diciptakan untuk menjaga dan mempertahankan nilai sosial. Norma merupakan bentuk konkret dari nilai-nilai yang ada di dalam masyarakat. Misalnya, nilai menghormati dan mematuhi orang tua diperjelas dan dikonkretkan dalam bentuk norma-norma bersikap dan berbicara kepada orang tua. Nilai-nilai sopan santun di sekolah dinyatakan menjadi tata tertib sekolah.

Secara umum, norma mengandung sanksi yang relatif tegas terhadap para pelanggarnya atau diistilahkan sebagai sanctioning norms. Norma sosial memang lebih banyak menekankan pada peraturan-peraturan yang selalu disertai oleh sanksi-sanksi yang merupakan faktor pendorong bagi individu ataupun kelompok masyarakat untuk mencapai ukuran nilai-nilai sosial tertentu yang dianggap terbaik untuk dilakukan. Menurut David Berry (1982), unsur pokok dari suatu norma adalah tekanan sosial terhadap anggota masyarakat untuk menjalankan norma-norma tersebut.

Alvin L. Bertrand mendefinisikan norma sebagai suatu standar-standar tingkah laku yang terdapat di dalam semua masyarakat. Ia menambahkan bahwa sebagai bagian dari kebudayaan non material, norma-norma dapat diidentikkan dengan arahan tegas menuju sikap dan tindakan yang ideal sesuai nilai sosial. Sedangkan Soerjono Soekanto dalam Kamus Sosiologi (1985) mengemukakan sejumlah pengertian norma sosial, yaitu:

  1. Aturan sosial,
  2. Patokan perilaku yang pantas,
  3. Tingkah laku rata-rata yang diabstraksikan.

Dalam kehidupan bermasyarakat, norma sosial mempunyai sejumlah fungsi dan peranan, antara lain:

  1. Norma-norma sosial sebagai unsur kebudayaan non-material dapat berfungsi sebagai landasan kekuatan pribadi dalam upaya melindungi diri dari ancaman kejahatan moral atau pengaruh-pengaruh buruk dari luar. Dalam konteks tersebut, norma atau kaidah sosial pada dasarnya merupakan petunjuk-petunjuk ideal tentang bagaimana seharusnya manusia berperilaku dalam pergaulan hidup bermasyarakat.
  2. Norma sosial merupakan faktor perilaku dalam suatu kelompok atau masyarakat tertentu yang memungkinkan seseorang untuk menentukan terlebih dahulu bagaimana tindakannya akan dinilai pihak lain. Contohnya, seorang pelaku penyalahgunaan narkoba/napza dapat mengetahui bahwa perbuatannya tidak mungkin dapat diterima oleh lingkungannya, karena ia mengetahui adanya UU No. 22 Tahun 1997 tentang Narkotika.
  3. Norma sosial diciptakan untuk menjaga dan mempertahankan nilai sosial. Norma sosial merupakan aturan dan sanksi-sanksi untuk mendorong seseorang, kelompok, atau masyarakat untuk mencapai nilai-nilai sosial. Norma tidak hanya berarti sebagai bentuk aturan yang mendukung suatu perilaku yang positif saja, tetapi dapat juga merupakan aturan yang mendorong seseorang atau kelompok untuk menghindari perbuatan-perbuatan yang negatif dan merugikan pihak lain.
  4. Norma sosial merupakan aturan-aturan yang tumbuh dan hidup dalam masyarakat sebagai unsur pengikat dan pengendali manusia dalam hidup bermasyarakat. Norma mengandung pembatasan atas sifat alamiah kekebasan manusia yang ditunjukkan melalui perintah dan larangan. Efektif atau tidaknya fungsi norma sosial, sangat bergantung pada kekuatan pengakuan dan besarnya harapan masyarakat terhadap keberadaan norma sosial itu sendiri sebagai landasan perilaku dalam usaha mengatasi berbagai gejala dan konflik sosial. Norma-norma sosial diharapkan dapat berfungsi memberikan petunjuk tentang cara untuk mengatasi goncangan-goncangan sosial yang dianggap membahayakan keteraturan masyarakat. Semakin kuat penerimaan dan ketaatan anggota masyarakat terhadap norma-norma sosial yang berlaku, maka ada kecenderungan bahwa pola perilaku dan hubungan sosial dalam sistem pergaulan kehidupan bermasyarakat semakin stabil.

Rangkuman

  1. Norma merupakan bentuk konkret dari nilai-nilai yang ada di dalam masyarakat.
  2. Norma-norma sosial sebagai unsur kebudayaan non-material dapat berfungsi sebagai landasan kekuatan pribadi dalam upaya melindungi diri dari ancaman kejahatan moral atau pengaruh-pengaruh buruk dari luar.
  3. Norma sosial merupakan faktor perilaku dalam suatu kelompok atau masyarakat tertentu yang memungkinkan seseorang untuk menentukan terlebih dahulu bagaimana tindakannya akan dinilai pihak lain.
  4. Norma sosial diciptakan untuk menjaga dan mempertahankan nilai sosial.
  5. Norma sosial merupakan aturan-aturan yang tumbuh dan hidup dalam masyarakat sebagai unsur pengikat dan pengendali manusia dalam hidup bermasyarakat.
  6. Norma dibentuk di atas nilai sosial dan diciptakan untuk menjaga dan mempertahankan nilai sosial. Norma merupakan bentuk konkret dari nilai-nilai yang ada di dalam masyarakat.
  7. Norma awalnya terbentuk secara tidak disengaja. Lambat laun, akibat kebutuhan masyarakat yang semakin kompleks, norma pun dirumuskan secara sengaja.
  8. Menurut daya ikatnya, norma sosial dapat dibedakan atas Cara, Kebiasaan, Tata Kelakuan, Adat-Istiadat, dan Hukum.
  9. Menurut sanksinya, norma sosial dapat dibedakan atas Norma Agama, Norma Kesopanan, Norma Kesusilaan, Norma Hukum, dan Norma Mode.
  10. Menurut resmi/tidaknya, norma sosial dapat dibedakan atas Norma Resmi dan Norma Tidak Resmi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *