Klasifikasi Kelompok Sosial Menurut Kejelasan Struktur, Sifat dan Proses

By | January 3, 2021
Klasifikasi Kelompok Sosial Menurut Kejelasan Struktur

Klasifikasi Kelompok Sosial Menurut Kejelasan Struktur, Sifat dan Proses

Klasifikasi Kelompok Sosial Menurut Kejelasan Struktur

Klasifikasi Kelompok Sosial Menurut Kejelasan Struktur – Kelompok sosial adalah kehidupan bersama manusia dalam himpunan atau kesatuan yang bersifat guyub atau pun formal. Bagaimanakah klasifikasi kelompok sosial menurut kejelasan struktur? Berikut penjelasannya.

Setelah mempelajari bahasan ini, kalian diharapkan mampu memahami mengenai klasifikasi kelompok sosial menurut kejelasan struktur.

Berdasarkan kriteria kejelasan struktur, kelompok sosial dapat dibedakan atas kelompok sosial teratur dan kelompok sosial tidak teratur. Kelompok sosial teratur merupakan kelompok yang dapat dijelaskan struktur, norma, dan perannya. Kelompok sosial teratur bisa dibedakan lagi atas sejumlah kriteria, yakni :

Berdasarkan besar kecilnya jumlah anggota kelompok

Kelompok primer (primary group)

Kelompok primer ditandai dengan adanya hubungan yang erat dimana anggota-anggotanya saling mengenal dan seringkali berkomunikasi secara langsung bertatapan (face to face). Selain itu, juga terdapat ikatan psikologis serta kerja sama bersifat pribadi.
Menurut Charles Horton Cooley, kondisi-kondisi fisik kelompok primer dapat diuraikan:

  • Tidak cukup hanya hubungan saling mengenal saja, akan tetapi yang terpenting adalah bahwa anggota-anggotanya secara fisik harus saling berdekatan.
  • Jumlah anggotanya harus kecil, agar dapat saling mengenal dan bertemu muka.
  • Hubungan antara anggota-anggotanya cenderung permanen.
    Sedangkan sifat-sifat hubungan dalam kelompok primer, masih menurut Charles Horton Cooley, ialah:
  • Sifat utama hubungan primer ialah adanya kesamaan tujuan di antara para anggotanya, yang berarti bahwa masing-masing individu mempunyai keinginan dan sikap yang sama dalam usahanya untuk mencapai tujuan, serta salah satu pihak harus rela berkorban demi kepentingan pihak lainnya.
  • Hubungan primer ini harus secara sukarela, sehingga pihak-pihak yang bersangkutan tidak merasakan adanya penekanan-penekanan, melainkan memperoleh kebebasan.
  • Hubungan primer melekat pada kepribadian seseorang dan tidak dapat digantikan oleh orang lain. Bagi mereka yang mengadakan hubungan juga harus menyangkut segenap kepribadiannya, misalnya perasaan, sifat, dan sebagainya.
    Contoh kelompok primer adalah keluarga, kelompok persahabatan, kelompok kerja, dan lainnya.

Kelompok sekunder (secondary group)

Pada kelompok sekunder, jumlah anggotanya banyak sehingga tidak saling mengenal, hubungan relatif renggang dimana anggotanya tak perlu saling mengenal secara pribadi, dan sifatnya tidak permanen. Hubungan cenderung pada hubungan formal, karena sedikit sekali terdapat kontak di antara para anggotanya. Kontak baru dilakukan bila ada kepentingan dan tujuan tertentu saja.

Berdasarkan derajat organisasinya

  1. Kelompok formal (formal group)
    Kelompok formal merupakan organisasi kelompok yang mempunyai peraturan tegas dan sengaja dibuat oleh anggota-anggotanya untuk ditaati serta mengatur hubungan antar anggota.
    Karena merupakan organisasi yang resmi, maka pastinya terdapat struktur organisasi dan hierarkhi di antara anggota-anggota kelompok bersangkutan.
  2. Kelompok informal (informal group)
    Kelompok informal adalah organisasi kelompok yang tidak resmi serta tak memiliki struktur ataupun organisasi. Biasanya kelompok ini dibentuk atas dasar pengalaman-pengalaman dan kepentingan-kepentingan yang sama dari para anggotanya.
    Karena tidak mengenal aturan tertulis, maka loyalitas antar anggota sangat menonjol. Para anggota umumnya dapat saling mengenal secara pribadi dan sering bertatap muka. Jadi, dapat dikatakan bahwa sifat maupun ciri kelompok informal nyaris sama dengan kelompok primer.

Rangkuman

  1. Berdasarkan besar kecilnya jumlah anggota kelompok, kelompok sosial dapat dibedakan atas Kelompok Primer dan Kelompok Sekunder.
  2. Berdasarkan derajat organisasinya, kelompok sosial dapat dibedakan atas kelompok formal dan kelompok informal.

Klasifikasi Kelompok Sosial Menurut Sifat dan Proses

Kelompok sosial adalah kehidupan bersama manusia dalam himpunan atau kesatuan yang bersifat guyub atau pun formal. Bagaimanakah klasifikasi kelompok sosial menurut sifat dan proses? Berikut penjelasannya.

Klasifikasi Kelompok Sosial Menurut Kejelasan Struktur, Sifat dan Proses

Setelah mempelajari bahasan ini, kalian diharapkan mampu memahami mengenai klasifikasi kelompok sosial menurut sifat dan proses.

Bergabung dengan sebuah kelompok merupakan sesuatu yang murni dari diri sendiri atau juga secara kebetulan. Misalnya, seseorang terlahir dalam keluarga tertentu. Tetapi, ada juga yang merupakan sebuah pilihan. Dua faktor utama yang tampaknya mengarahkan pilihan tersebut adalah kedekatan dan kesamaan.

  • Kedekatan
    Pengaruh tingkat kedekatan geografis maupun emosional terhadap keterlibatan seseorang dalam sebuah kelompok tidak bisa diukur. Individu membentuk kelompok bermain dengan orang-orang yang berada di sekitarnya. Individu hampir dapat dipastikan pula akan lebih memilih bergabung dengan kelompok kegiatan sosial bersifat lokal. Suatu kelompok sosial tersusun atas individu-individu yang saling berinteraksi. Semakin dekat jarak antara dua orang, semakin mungkin mereka saling melihat, berbicara, dan berhubungan. Dengan perkataan lain, kedekatan meningkatkan peluang interaksi dan bentuk kegiatan bersama yang memungkinkan terbentuknya kelompok sosial.
  • Kesamaan
    Tak pelak harus diakui bahwa orang lebih suka berhubungan dengan orang lain yang memiliki banyak kesamaan dengan dirinya. Kesamaan dimaksud mencakup kesamaan minat, kepercayaan, nilai, usia, tingkat kecerdasan, atau karakter-karakter personal lain. Semakin banyak kesamaan yang dimiliki seseorang dengan orang-orang lain maka kian besar pula kemungkinan mereka akan membentuk kelompok sosial.

Perilaku kelompok, sebagaimana semua perilaku sosial, sangat dipengaruhi oleh norma-norma yang berlaku dalam kelompok bersangkutan. Sebagaimana dalam kehidupan sosial pada umumnya, kegiatan anggota-anggota kelompok tidak muncul secara acak. Setiap kelompok memiliki suatu pandangan tentang perilaku mana yang dianggap pantas untuk dilakukan para anggotanya (norma). Hal mana dipastikan mengarahkan interaksi kelompok.

Berdasarkan sifat dan proses sosialnya, Burhan Bungin (2008) membedakan kelompok sosial atas :

  • Kelompok Formal-Sekunder
    Adalah kelompok sosial yang umumnya bersifat formal, sekunder, memiliki aturan dan struktur yang tegas (menyangkut tujuan, pola hubungan, pedoman perilaku, perekrutan anggota, pergantian kepemimpinan), serta dibentuk berdasarkan tujuan-tujuan tertentu yang telah ditetapkan sebelumnya. Contoh dari kelompok formal-sekunder adalah OSIS, Karang Taruna, Pramuka, partai politik, organisasi kepemudaan, organisasi profesi, dan sebagainya.
  • Kelompok Formal-Primer
    Kelompok formal-primer memiliki aturan dan struktur yang jelas, namun fungsi-fungsi struktur tersebut cenderung dilaksanakan secara bergotong royong atau guyub. Terbentuknya berdasarkan tujuan yang abstrak maupun konkret. Hubungan antar anggotanya bersifat sangat mendasar, penuh dengan cinta dan kasih sayang, serta memungkinkan tumbuhnya rasa persaudaraan yang bercorak emosional. Contoh dari kelompok formal-primer, misalnya, keluarga inti, kelompok kekerabatan, dan kelompok-kelompok primordial.
  • Kelompok Informal-Sekunder
    Adalah kelompok sosial yang umumnya informal dan keberadaannya bersifat sekunder. Kelompok ini relatif kurang mengikat, tidak memiliki aturan atau pun struktur yang tegas, dan dapat saja dibentuk berdasarkan kepentingan sesaat atau tujuan-tujuan pribadi. Contohnya, antara lain, kelompok persahabatan, klik, geng, kelompok percintaan (pacaran), dan lainnya.
  • Kelompok Informal-Primer
    Terbentuk karena pembentukan sifat-sifat di luar kelompok formal-primer, yang tidak dapat diwadahi oleh kelompok tersebut. Contohnya, dalam suatu kelompok etnis di perantauan yang bercorak primordial, hubungan-hubungan antar anggota tidak lagi terbatas dalam lingkup keorganisasian maupun pencapaian tujuan kelompok, tapi telah meluas membentuk hubungan-hubungan yang sangat pribadi dan mendalam. Anggota-anggotanya berinteraksi secara intensif dalam kehidupan sehari-hari.

Rangkuman

  1. Bergabung dengan sebuah kelompok merupakan sesuatu yang murni dari diri sendiri atau juga secara kebetulan.
  2. Berdasarkan sifat dan proses sosialnya, Burhan Bungin (2008) membedakan kelompok sosial atas tiga jenis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *